Hal-hal yang Harus Diperhatikan Sebelum Resign

Hal yang Harus Diperhatikan Sebelum Resign

Resign, apa itu resign?

Hal yang Harus Diperhatikan Sebelum Resign – Resign merupakan keputusan yang kita buat untuk berhenti bekerja di suatu perusahaan atau tenpat kita bekerja. Atau simpelnya, sama dengan mengundurkan diri dari pekerjaan.

Resign bukan merupakan perkara yang mudah. Karena di saat kita memutuskan untuk resign, kita pun harus bertanggung jawab untuk memikirkan langkah kita selanjutnya. Apakah sudah menemukan tempat bekerja baru atau memang ingin berhenti bekerja karena ingin melanjutkan usaha? Lalu, apakah kita sudah siap meninggalkan zona nyaman dan kerabat-kerabat di kantor serta kehilangan pendapatan tetap yang selalu kita terima setiap bulannya?

Sebelum resign, kita memang perlu mempertimbangkan banyak hal. Tapi, selain pertimbangan-pertimbangan tersebut, sebenarnya ada banyak hal-hal lain yang perlu kita perhatikan juga sebelum resign, khususnya jika kita resign dari suatu perusahaan/kantor yang memang cukup besar dan memberikan kita banyak fasilitas.

Ya, selain harus memikirkan tentang langkah yang akan kita ambil selanjutnya, ternyata masih banyak hal-hal teknis lainnya yang perlu kita perhatikan juga sebelum resign. Terlebih lagi jika kita merupakan karyawan dan warga negara yang baik, maka kita harus memperhatikan hal-hal ini. Berikut adalah hal-hal yang harus diperhatikan sebelum resign.

1. Jaga Hubungan Baik dengan Kerabat

Sebelum melangkah lebih jauh, hal ini merupakan hal yang paling penting kita lakukan sebelum resign. Bahkan, jika kita tidak berniat resign pun kita harus melakukan hal ini, yaitu menjaga hubungan baik dengan kerabat-kerabat. Mengapa?

Dunia kerja juga umumnya sangat sempit, sama halnya dengan dunia pertemanan namun mungkin dunia kerja akan dibawa ke arah yang lebih profesional. Jagalah hubungan baik dengan kerabat-kerabat di kantor sebab tidak ada yang tahu jika suatu saat nanti kita akan terlibat di dalam satu bisnis kembali atau tidak. Bahkan bisa saja suatu saat nanti, kita akan bekerja untuk kerabat-kerabat kita atau sebaliknya. Maka inilah pentingnya kita selalu menjaga hubungan baik dengan kerabat-kerabat kerja di kantor.

Selain dengan kerabat sesama staf di kantor, penting juga bagi kita untuk menjaga hubungan baik dengan atasan-atasan, seperti supervisor, head, atau manajer. Karena seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, tidak ada yang tahu jika suatu saat nanti kita akan terlibat di dalam satu bisnis kembali atau tidak.

Selain itu, kita pun harus menjaga hubungan baik dengan bagian Human Resource Department (HRD) atau yang biasa disebut dengan personalia di kantor. Mengapa? Karena saat mengajukan resign, kita akan mengajukan surat resign juga kepada mereka dan kita pun akan membutuhkan banyak bantuan dari mereka untuk mengurus proses resign kita.

Faktanya, resign bukan hanya sekedar mengajukan surat pengunduran diri saja lalu langsung pergi menghilang begitu saja. Ada banyak hal yang harus diurus sebelum resign. Nah inilah yang akan dibahas di poin-poin selanjutnya.

2. Buat Surat Pengajuan Resign

Selanjutnya, sebelum resign kita wajib membuat surat resign atau surat pengunduran diri. Nantinya, surat ini akan kita ajukan untuk atasan kita (supervisor, head, atau manajer) dan bagian HRD di kantor.

Buatlah surat resign yang formal dan sopan. Surat resign ini biasanya harus kita ajukan minimal H-sebulan tanggal hari terakhir kita bekerja atau yang biasa disebut dengan last day kita bekerja di perusahaan tersebut. Mengapa harus demikian? Karena kebanyakan perusahaan akan memberikan izin resign kepada pegawainya dengan One Month Notice (yaitu, perlu waktu selama sebulan sampai hari terakhir pegawai tersbut bekerja yang biasanya bertujuan untuk memberi waktu terhadap bagian HRD untuk menemukan pengganti pegawai yang mau resign tersebut *cmiiw (correct me if i’m wrong). Selain itu, kita pun biasanya masih diberi tanggung jawab untuk serah terima pekerjaan kepada pengganti kita nantinya).

3. Surat Keterangan Bekerja

Nah, setelah Anda mengajukan surat resign dan mengetahui kapan hari terakhir Anda bekerja, selanjutnya disinilah Anda membutuhkan bantuan dari HRD yaitu untuk membuat surat keterangan pernah bekerja di perusahaan Anda tersebut. Surat ini berbeda dengan surat rekomendasi yang biasa dibuat langsung oleh atasan Anda untuk merekomendasikan Anda. Biasanya surat ini hanyalah sekedar keterangan jika Anda pernah benar-benar bekerja di perusahaan tersebut. Dan di surat itu pun akan tertera berapa lama Anda sudah bekerja di perusahaan tersebut.

Walaupun begitu, surat ini pun tetap sangat penting karena bisa Anda cantumkan ketika Anda akan melamar kerja ke perusahaan lain. Surat ini pun biasanya bermanfaat untuk meyakinkan HRD perusahaan lain tersebut untuk menerima Anda. Walaupun surat ini tidak sepenuhnya menjamin jika Anda akan langsung diterima di perusahaan tersebut, tetapi setidaknya Anda sudah memiliki dan mencantumkan ‘bukti’ bahwa Anda sudah bekerja dengan baik sebelumnya dan tidak berbohong mengenai isi CV (curriculum vitae) atau riwayat kerja Anda.

Untuk itu, beberapa hari sebelum hari terakhir bekerja, Anda perlu menanyakan kepada HRD perihal surat keterangan pernah bekerja ini. Biasanya HRD yang baik memang akan langsung membuatkan untuk setiap pegawai yang akan resign dan biasanya akan diserahkan ketika hari terakir bekerja. Surat ini akan diberikan kepada Anda sembari Anda juga mengembalikan barang-barang atau akses yang pernah Anda dapatkan di perusahaan ini kepada HRD, seperti kartu akses/absen, laptop dan lain sebagainya.

4. Slip Gaji Terakhir

Selain surat keterangan pernah bekerja, Anda pun perlu menanyakan perihal slip gaji terakhir yang Anda terima. Biasanya, slip gaji akan dikirim ke email Anda di kantor, tetapi untuk yang terakhir, mintalah kepada HRD untuk mengirimkannya ke email pribadi Anda atau Anda print terlebih  dahulu sebelum resign. Mengapa? Karena jika Anda sudah keluar dari perusahaan tersebut, otomatis akses email kantor Anda akan langsung dicabut dan Anda pun tidak bisa lagi membuka email kantor Anda untuk mengambil slip gaji yang biasa dikirim ke email kantor Anda tersebut.

Penting diingatkan disini, karena beberapa kali terjadi kasus seperti itu, dimana beberapa orang baru sadar belum memback up apa yang dikirim email kantornya ketika akses ke email kantor tersebut telah dicabut saat Anda resign. Alhasil Anda harus menghubungi dan memintanya kembali kepada HRD Anda setelah resign. Cukup merepotkan bukan?

Ingatlah, bahwa beberapa perusahaan juga sering meminta slip gaji terakhir Anda dari perusahaan lama untuk menentukan gaji berapa yang akan diberikan kepada Anda sebagai patokan ketika Anda melamar kerja. Maka dari itu, Anda pun perlu menanyakan perihal slip gaji terakhir kepada HRD lama Anda. Selain itu, ada juga perusahaan yang meminta slip gaji 3 bulan ke belakang. Nah, jika begitu, alangkah baiknya sebelum resign, sebaiknya Anda siapkan atau Anda back up terlebih dahulu semua dokumen yang Anda butuhkan.

5. Fasilitas yang Pernah Anda Dapatkan

Jika Anda akan resign dari perusahaan, bukan berarti Anda sudah tidak perlu peduli lagi dengan fasilitas-fasilitas yang Anda dapatkan di kantor lama. Sebagai karyawan dan warga negara yang baik, Anda pun harus tetap peduli dan bertanggung jawab atas fasilitas-fasilitas dan hal-hal lainnya yang pernah Anda dapatkan di perusahaan tersebut.

Mungkin fasilitas-fasilitas seperti kartu akses/absen, laptop, atau asuransi dari perusahaan akan langsung diputus begitu saja ketika Anda resign. Tapi bagaimana dengan fasilitas-fasilitas dari pemerintah yang sudah terkenal dengan birokrasinya yang rumit? Anda tidak boleh tidak mempedulikannya begitu saja sebelum Anda menyesal dan ‘ribet’ di kemudian hari. Perhatikan poin-poin berikut ini.

5.1. BPJS Kesehatan

Setiap karyawan di sebuah perusahaan berhak menerima fasilitas kesehatan dari pemerintah ini. Dengan didaftarkan oleh perusahaan, Anda pun akan menerima sebuah fasilitas untuk berobat secara gratis ke klinik-klinik yang terdaftar di BPJS Kesehatan ini.

Namun ada beberapa perusahaan yang menurut saya masih agak membingungkan dalam mengurus fasilitas yang satu ini. Maklum saja, selain birokrasinya yang sulit, bayangkan saja jika karyawan di perusahaan tersebut sangatlah banyak, maka tidak heran jika banyak HRD yang agak kerepotan.

Ingat, setiap perusahaan umumnya memang sudah secara otomatis memberikan fasilitas ini kepada Anda karena fasilitas ini juga diberikan secara langsung dari pemerintah. Jika Anda adalah karyawan baru, maka Anda akan dibuatkan nomor dan kartu BPJS Kesehatan yang baru pula.

Namun, jika Anda sebelumnya sudah memiliki BPJS Kesehatan dengan keluarga Anda, biasanya status BPJS Kesehatan Anda akan diubah dari pribadi ke perusahaan, karena Anda tidak bisa memiliki keduanya sekaligus. Jika Anda seorang karyawan, Anda akan dikenai potongan di setiap pendapatan Anda sesuai dengan kelas kamar/rumah sakit yang dipilih oleh perusahaan, Jadi Anda tidak perlu membayar lagi secara pribadi.

Dan jika And karywan lama dan sebelumnya dari perusahaan lama Anda sudah dibuatkan, maka Anda tidak perlu membuatnya lagi, Anda hanya perlu melanjutkan saja dengan nomor dan kartu BPJS Kesehatan yang lama.

Nah inilah pentingnya Anda mengurus status BPJS Kesehatan Anda sebelum resign. Pastikan kembali nomor dan kartu BPJS Kesehatan Anda telah aktif sehingga Anda dapat mengetahui status Anda untuk di perusahaan baru nanti. Tanyakan pada HRD lama Anda agar Anda tidak perlu membuatnya lagi di perusahaan baru.

FYI, pada beberapa kasus, ada karyawan yang belum juga menerima nomor dan kartu BPJS Kesehatan dari perusahaan padahal itu adalah haknya dan menurut petugas BPJS Kesehatan pun seharusnya HRD sudah memberikannya sejak awal Anda masuk di perushaan tersebut. Maka dari itu, sebelum Anda resign dari perusahaan, ada baiknya pastikan kembali jika Anda sudah pernah menerimanya, agar tidak perlu repot lagi membuat baru di perusahaan yang baru.

5.2. BPJS Ketenagakerjaan

Sama halnya dengan BPJS Kesehatan, Anda pun berhak menerima nomor dan kartu BPJS Ketenagakerjaan ini sebagai jaminan hari tua (JHT), jaminan kecelakaan kerja (JKK), jaminan kematian (JKM), jaminan pensiun dan lain-lain untuk Anda kelak. Anda pun akan dikenai potongan di setiap pendapatan Anda sebagai ‘investasi’ yang suatu saat bisa Anda klaim kembali. Maka dari itu, Anda pun wajib mengetahui dan menerima nomor serta kartu BPJS Ketenagakerjaan ini.

BPJS Ketenagakerjaan bisa Anda klaim di kemudian hari jika Anda sudah pensiun atau sudah tidak bekerja lagi. Untuk klaim, Anda bisa melakukannya di kantor BPJS Ketenagakerjaan manapun yang dekat dengan domisili Anda dengan membawa beberapa persyaratan dokumen (selengkapnya baca di sini). Dan lagi-lagi, sama seperti BPJS Kesehatan, pada beberapa kasus, ada karyawan yang belum juga menerima nomor dan kartu BPJS Ketenagakerjaan dari HRD padahal seharusnya menurut petugas BPJS Ketenagakerjaan, seharusnya HRD sudah memberikannya sejak awal Anda masuk ke perusahaan tersebut.

Hal ini perlu Anda perhatikan, agar Anda tidak perlu membuat nomor dan kartu yang baru lagi setiap Anda pindah perusahaan. Jadi Anda hanya perlu melanjutkannya saja.

Namun ada kasus lagi, dimana perusahaan baru juga tidak menanyakan terlebih dahulu perihal BPJS Ketenagakerjaan kepada karyawan barunya sehingga langsung membuatkan BPJS Ketenagakerjaan yang baru. Disini pentingnya komunikasi. Padahal bisa saja karyawan baru tersebut tinggal menggunakan/melanjutkan nomor dan kartu BPJS Ketenagakerjaan yang sudah ada saja. Jika sudah begitu, karyawan pun akan bingung karena memiliki banyak kartu.

Tetapi tenang, jika sudah memiliki nomor dan kartu BPJS Ketenagakerjaan yang baru, Anda tetap bisa mengecek status dan saldo BPJS Ketenagakerjaan Anda yang lama misalnya saja saldo jaminan hari tua (JHT) Anda untuk diklaim di kemudian hari. Anda bisa menanyakannya langsung ke kantor BPJS Ketenagakerjaan terdekat atau bisa di cek secara online di sini atau melalui aplikasi ini.

Namun beda kasus jika Anda tidak menemukan saldo di BPJS Ketenagakerjaan Anda yang lama di website online tersebut. Anda harus menanyakannya langsung ke kantor BPJS Ketenagakerjaan tempat BPJS Ketenagakerjaan Anda tersebut dibuat. Inilah pentingnya Anda menanyakan status BPJS Ketenagakerjaan Anda pada HRD lama Anda sebelum resign dan tanyakan juga dimana kartu Anda dibuat agar Anda bisa mengurusnya.

5.3. SPT (Surat Pemberitahuan Tahunan)

Pernahkah Anda ‘ditagih’ untuk melaporkan pajak Anda? Inilah fungsinya Anda menerima SPT atau Surat Pemberitahuan Tahunan.

Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT) adalah surat yang oleh wajib pajak digunakan untuk melaporkan penghitungan dan atau pembayaran pajak, objek pajak dan atau bukan objek pajak dan atau harta dan kewajiban, menurut ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.

Nah setiap tahunnya Anda harus melaporkan SPT tersebut. Anda bisa mendatangi KPP (Kantor Pelayanan Pajak) terdekat atau melakukannya secara online di sini.

Lagi-lagi, inilah hal yang penting Anda tanyakan juga kepada HRD lama Anda sebelum resign yaitu surat SPT Anda. Mengapa? Karena jika Anda sudah keluar dan pindah ke perusahaan baru, ketika Anda ditagih melaporkan SPT, SPT yang Anda perlukan adalah yang dikirim ke perusahaan lama, bukan di perusahaan yang baru Anda. Sebab SPT yang diminta adalah yang didapat di perusahaan lama Anda, sedangkan SPT yang akan Anda dapatkan juga di perusahaan baru setelah beberapa bulan Anda bekerja, akan Anda gunakan untuk laporan SPT di tahun selanjutnya.

Itulah beberapa hal yang sangat penting diperhatikan sebelum resign. Terima kasih sudah membaca hingga akhir dan sampai jumpa di artikel selanjutnya.

6 Replies to “Hal-hal yang Harus Diperhatikan Sebelum Resign”

Leave a Reply